Langsung ke konten utama

Inspirasi: Perjuangan Umi Lawan Kanker Serviks dan Trauma Kehilangan

 


Umi didiagnosis kanker serviks pada tahun 2024. Awalnya, ia mencoba pengobatan herbal, sesekali tersenyum meski hatinya cemas. Sempat dirujuk ke RSCM Jakarta, tapi Umi menolak. Ia kasihan melihat emak yang juga sakit PPOK—tidak tega meninggalkan emak sendirian. Aku masih ingat bagaimana Umi menatap ke luar jendela, menahan air mata, seakan berkata pada dirinya sendiri, “Aku harus kuat, meski dunia terasa berat.”

Tahun 2025 membawa luka yang lebih dalam. Pada 16 April, emak—ibu Umi—meninggal di rumah setelah perjuangan panjang melawan sakitnya. Hati Umi retak, tapi kehidupan tidak memberi waktu untuk berduka terlalu lama. Hanya tujuh bulan kemudian, pada 20 November, babeh—suami Umi—meninggal tiba-tiba. Sedih, terpuruk, dan hancur. Dunia seakan runtuh, dan setiap napas terasa berat bagi Umi.

Namun di tengah puing-puing kesedihan itu, Umi harus melawan kanker stadium 2b. Awal 2026 menjadi titik baru perjuangan: radioterapi, kemoterapi, dan hari-hari yang panjang di rumah sakit. Aku berhenti bekerja demi merawatnya, menemaninya di setiap langkah, sambil sesekali bekerja sebagai driver Grab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS.

Setiap hari penuh lelah, putus asa, dan rasa capek yang tak ada habisnya. Tapi di setiap senyum Umi, di setiap genggaman tangannya, aku menemukan secercah harapan. Kami percaya, Allah selalu menyalakan cahaya-Nya, seperti firman-Nya dalam Surah Al-Insyirah: “....Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.”

Momen-momen kecil itu—saat Umi tertawa pelan setelah rasa sakit reda, atau ketika aku menyiapkan teh hangat untuknya di malam hari—menjadi pengingat bahwa harapan selalu bisa ditemukan, meski luka dan kesedihan silih berganti. Perjalanan ini mengajarkan kami tentang ketabahan, cinta keluarga, dan kekuatan untuk terus melangkah.

Kisah Umi adalah cerita tentang keberanian hati, tentang bagaimana manusia bisa tetap menemukan cahaya meski hidup menyelimuti dengan gelap. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang menghadapi kehilangan, kesakitan, atau perjuangan yang terasa tak berujung. Karena meski dunia menaruh beban yang berat, selalu ada secercah harapan yang menunggu untuk ditemukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Merajut dan Meraih Impian Tanpa Takut Kegagalan dengan Doa; Impian Bekerja di Badan Informasi Geospasial

  Sumber Foto: Facebook Diklat Geospasial BIG     Sebuah kekuatan doa sering kali dianggap sepele. Bahkan terkadang ada saja seorang hamba yang berdoa dengan sangat simpel seperti. “Ya Allah, Engkau yang Maha tahu isi hati seseorang, doaku masih sama Ya Allah seperti kemarin. Doaku ada di dalam hati ini.” Bagaimana menurut kalian?      Bila kita lihat kembali sebenarnya tidak ada yang salah dengan doa tersebut. Hanya saja sangat disayangakan bahwa dari doa tersebut melewati kesempatan hal yang lebih mendetail dan spesifik. Sebuah permainan kata dalam komunikasi adalah sesuatu yang mendasar agar komunikasi tersebut dapat berjalan dengan lancar dan terkesan hidup.      Bila saja kita mampu berkomunikasi dengan kata-kata yang romantis pada pasangan atau pacar kita. Lantas mengapa dengan Tuhan komunikasinya sangat singkat sekali? Sudahkah kalian berdoa dengan serius kepada Tuhan?      Kekuatan doa adalah sesuatu hal yang sa...

Why Going to Therapy Is Not a Sign of Weakness

Sumber Foto : Ai(ChatGPT), 2026 Introduction In many communities, going to therapy is still seen as a sign of weakness. Some people believe that seeking professional help means you are not strong enough to handle your own problems. Others assume that therapy is only for those who are “mentally unstable.” These misconceptions have created a strong therapy stigma that prevents many individuals from getting the mental health support they truly need. In reality, going to therapy is not a weakness — it is a courageous step toward personal growth and self-awareness. Understanding the Stigma Around Therapy One of the most common beliefs is that “only crazy people go to therapy.” This harmful stereotype reduces mental health struggles to something shameful or extreme. In some cultures, individuals are encouraged to simply “pray more” or “be stronger” instead of seeking professional support. While spirituality and resilience are valuable, they do not replace structured psychological care. ...