Angka-angka itu terus bergerak, melonjak naik seperti ombak pasang yang tak terbendung. 679K views. 124K likes. Ribuan komentar.
Citra Maheswari menatap layar ponselnya dengan campuran keterkejutan dan kegelisahan. Video kolaborasi pertamanya dengan Devano Wiratama baru saja diunggah kemarin, dan sekarang… viral.
Genggaman tangannya mengencang di ponsel. Dia tahu betapa algoritma TikTok bisa bekerja seperti sulap—mengangkat seseorang ke puncak dalam semalam, hanya untuk menjatuhkannya dengan brutal esok hari.
"Fix mereka couple goals! Udah jadian belum sih?!"
"Cocok banget, sumpah! Tolong nikah beneran, ya."
"Gue baru tahu kalau cinta bisa diatur algoritma, LOL."
Citra menghela napas, jari-jarinya dengan ragu menggulir komentar-komentar yang tak henti-hentinya menuntut kepastian tentang hubungan mereka.
“Gila… ini viral.” Suaranya nyaris seperti bisikan, ditelan gemuruh pikirannya sendiri.
Dari sisi sofa, Devano menyodorkan layar ponselnya dengan tawa kecil. "Lihat ini, Cit." Dia membaca salah satu komentar dengan nada menggoda. “Udah jadian belum?!”
Citra menoleh ke arahnya, mengangkat alis. “Biasa, algoritma suka hal-hal kayak gini.”
“Ya,” Devano mengangkat bahu santai. “Tapi kalau algoritma udah bicara, kadang kita harus nurut.”
Sebelum Citra bisa menanggapinya, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.
[Meeting Darurat - Sekar Arum Agency, 30 Menit Lagi]
Jantungnya berdegup lebih cepat. Perasaan tidak enak mulai menjalar di dadanya. Dia melirik Devano yang masih terlihat tenang, seperti ini bukan sesuatu yang mengejutkan baginya.
"Gue punya firasat nggak enak," gumam Citra.
Devano menyeringai. “Santai aja. Gue yakin ini kabar bagus.”
30 menit kemudian, di ruang rapat Sekar Arum Agency…
Suasana di ruangan itu terasa lebih berat dari biasanya. Citra bisa merasakan ketegangan tipis di udara, seperti ada sesuatu yang disiapkan secara matang di balik layar.
Di ujung meja panjang, Raka—manajer mereka—duduk dengan ekspresi puas. Wajahnya berseri-seri saat dia menunjuk ke layar proyektor yang menampilkan grafik engagement mereka. Angkanya melonjak tajam, jauh melampaui ekspektasi.
"Selamat," Raka membuka percakapan. "Kalian baru di agensi ini, tapi sudah bikin ledakan engagement yang luar biasa. Brand-brand mulai melirik kalian. Ini momen emas."
Citra merasakan kegelisahan merayapi pikirannya. “Terus… ada apa?”
Raka menyandarkan diri di kursinya, menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu yang membuat napas Citra tercekat.
"Kami ingin kalian jadi pasangan."
Detik itu juga, waktu seolah melambat.
“Maksudnya?!” Citra hampir berseru.
“Bukan cuma di konten, tapi di dunia nyata,” lanjut Raka dengan nada meyakinkan. “Setidaknya, di depan publik.”
Citra menoleh ke Devano, berharap mendapatkan reaksi terkejut yang sama. Tapi, alih-alih terlihat kaget, pria itu justru menyeringai kecil—seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Sounds interesting," katanya santai.
Citra merasakan ketegangan di rahangnya. “Tapi kita nggak benar-benar pacaran.”
Raka mengangkat bahu ringan. “Netizen nggak perlu tahu itu.”
Ada sesuatu yang terasa begitu salah tentang semua ini, tapi Citra tahu industri ini tidak mengenal kata "salah" atau "benar". Yang ada hanya "menguntungkan" dan "tidak menguntungkan".
Dia menelan ludah. "Jadi, ini cuma untuk engagement? Buat brand-brand?"
Raka menatapnya tajam. “Citra, kita di industri ini nggak bisa hanya mengandalkan konten biasa. Kita butuh cerita. Kita butuh chemistry yang bisa dijual. Dan kalian berdua? Kalian punya itu.”
Dia menoleh ke Devano, berharap pria itu mengatakan sesuatu yang bisa menenangkannya. Tapi Devano hanya menatap lurus ke arah Raka, seolah mencerna tawaran itu tanpa beban.
Lalu dia berkata, "Gue nggak keberatan. Toh, ini bagian dari pekerjaan, kan?"
Jantung Citra berdetak lebih kencang.
"Devano benar-benar mau melakukan ini?" tanya Citra dalam hati.
Tangan Citra mengepal di bawah meja. Dia bisa saja menolak. Tapi dia juga tahu, di dunia ini, menolak berarti kehilangan kesempatan.
Raka mencondongkan tubuh ke depan. "Kamu mau jadi besar di industri ini, Cit? Ini caranya. Ini kesempatan yang nggak datang dua kali."
Citra merasakan dadanya sesak. Apakah dia benar-benar siap menjual cerita cinta yang bahkan bukan miliknya?
Napasnya tertahan beberapa detik sebelum akhirnya dia berkata, “Baik. Aku setuju.”
Raka tersenyum puas. "Kalian baru saja membuat keputusan terbaik dalam karir kalian."
Tapi bagi Citra, ini tidak terasa seperti keputusan terbaik.
Malam itu, di apartemen Citra…
Lampu kamar temaram, hanya diterangi bias layar ponsel yang masih menampilkan notifikasi tentang viralnya video mereka.
Citra menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sejak kapan aku mulai menjual kisah cinta yang bahkan bukan milikku?"
Ponselnya bergetar, memecah keheningan. Nama Devano Wiratama muncul di layar.
Dengan ragu-ragu, dia mengangkatnya.
“Hei, lo nggak apa-apa?” suara Devano terdengar ringan, seakan ini semua bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Citra menghela napas. “Nggak tahu, Van. Ini semua terasa… aneh.”
Devano tertawa kecil. "Santai aja. Anggap ini akting. Kita profesional."
Citra diam sejenak. "Iya, tapi ini tentang diri gue juga, Van. Gue takut kehilangan jati diri."
Hening sejenak sebelum Devano menjawab.
"Jati diri nggak bayar tagihan, Cit."
Citra terdiam.
Kata-kata itu terasa lebih tajam dari yang seharusnya. Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar.
Devano mungkin benar. Di dunia ini, citra lebih penting dari kenyataan. Hubungan yang sempurna lebih penting dari perasaan yang nyata.
Tapi, sejak kapan dia menjadi seseorang yang rela diperjualbelikan demi algoritma?
Citra meletakkan ponselnya di meja. Pandangannya menerawang ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti ribuan pasang mata yang selalu mengawasi.
Bersambung ke Bab 2…

Komentar
Posting Komentar